Beruang Lapar ilustrasi Farid S Madjid - Suara Merdeka
Beruang Lapar ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka

Setelah sang ayah meninggal, Sharon mendapat warisan sebidang tanah di dekat sungai. Ada sebuah jembatan di atas sungai itu, yang menghubungkan kampung Sharon dengan kampung lain. Sharon berpikir apa yang bisa ia lakukan pada tanah warisannya?

Suatu hari Sharon membangun pondok kecil di dekat sungai. Di pondok itulahSharon berjaga dari pagi sampai sore. Setiap ada orang yang hendak melintasi jembatan, Sharon keluar dari pondok lalu segera mencegat.

“Apakah kau akan melintasi jembatan?” tanya Sharon kepada seorang nenek yang berjalan menuju jembatan.

“Benar,” jawab si nenek.

“Kau harus membayar dua keping perak padaku, Nek,” kata Sharon menyodorkan tangan, meminta nenek itu untuk membayar.

“Jangan bercanda, anak muda. Jembatan ini milik umum, mengapa aku harus membayar?” tanya si nenek.

“Memang, Nek, jembatan ini milik umum. Tetapi, untuk menuju jembatan itu kau melintasi tanahku. Kau harus membayar dua keping perak padaku,” jawab Sharon.

“Aku akan lewat jalan lain saja,” kata si nenek.

“Silakan, Nek. Nenek bisa lewat jalan di sana, tetapi hati-hatilah, Nek. Di sana ada beruang lapar,” kata Sharon.

“Beruang lapar?” sahut si nenek berpikir. “Baiklah, aku akan melintasi jembatan ini saja.”

“Dua keping perak,” Sharon kembali menyodorkan tangan.

Si nenek mengeluarkan dua keping perak dari kantung jaketnya, menyerahkannya pada Sharon seraya berkata, “Semoga Tuhan menghukummu, pemuda malas!”

Sharon tertawa. Ia mendapatkan uang banyak hari itu.

***

Hari demi hari berlalu, makin banyak saja orang yang percaya omongan Sharon tentang beruang lapar. Orang-orang terpaksa melintasi jembatan dan harus membayar dua keping perak kepada Sharon. Itu lebih baik, daripada melewati jalan lain dengan risiko bertemu beruang lapar.

Suatu hari, Sharon bergegas ke luar dari pondok ketika melihat seorang kakek berjalan menuju jembatan.

“Tunggu, Kek,” kata Sharon.

“Kakek hendak melintasi jembatan?”

“Benar, anak muda. Aku akan mengunjungi cucuku di kampung sebelah,” jawab si kakek.

“Kau harus membayar dua keping perak padaku, Kek.”

“Dua keping perak? Ah, lebih baik uang itu kuberikan pada cucuku, daripada kuberikan pada pemuda malas sepertimu,” kata si kakek.

“Kalau kau tak membayar, kau tak boleh melintasi jembatan, Kek.”

“Tidak apa. Aku akan lewat jalan di sana saja, meski lebih jauh tetapi tak perlu membayar,” kata si kakek.

“Tapi di jalan sana ada beruang lapar, Kek,” sahut Sharon.

“Beruang lapar?” si kakek tampak berpikir.

“Ya, ada beruang lapar di sana, Kek.”

Si kakek tersenyum, lalu menunjukkan obor yang belum menyala kepada Sharon.

“Aku akan menyalakan obor ini ketika melewati jalan di sana. Beruang takut pada api,” kata si kakek lalu pergi.

Rupanya keberanian si kakek menolak membayar dan memilih melewati jalan yang konon ada beruang lapar itu, cepat menyebar di penjuru kampung. Orang-orang pun mengikuti cara si kakek.

Tak ada lagi orang yang mau melintasi jembatan dan membayar dua keping perak kepada Sharon. Mereka lebih memilih membawa obor dan menyalakannya ketika melewati jalan lain, dan mereka aman tanpa diganggu beruang lapar. Akibatnya, Sharon tak punya penghasilan lagi.

“Mungkin tarifku terlalu tinggi. Baiklah, akan kuturunkan tarifnya menjadi satu keping perak saja. Semoga orang-orang mau melintasi jembatan itu lagi,” begitu pikir Sharon.

***

Suara gemuruh terdengar di langit. Sharon menengadahkan kepala menatap langit. Tampak awan hitam bergulung-gulung.

“Sebentar lagi hujan. Lebih baik aku pulang saja. Besok, aku akan mengumumkan kepada orang-orang bila tarif menyeberang jembatan itu hanya satu keping perak,” Sharon bergumam, lalu bergegas pulang.

Sore itu hujan sangat deras dan lama. Sungai banjir menerjang jembatan, hingga akhirnya jembatan di kampung itu pun runtuh. Keesokan harinya, Sharon sedih melihat jembatan itu telah hilang, hanyut dibawa banjir.

Sharon bergegas menuju kampung. Ia mengabarkan pada orang-orang tentang runtuhnya jembatan itu.

“Tolong, bantu aku membangun kembali jembatan itu, agar kalian bisa menyeberang bila hendak ke kampung lain,” kata Sharon kepada penduduk kampung.

Tetapi tak ada penduduk kampung yang mau membantu Sharon.

“Ayo, tolonglah aku. Aku mohon,” kata Sharon kepada seorang kakek yang ia temui di jalan.

“Untuk apa kami harus membangun kembali jembatan itu? Agar kami mudah bila hendak menyeberang ke kampung lain? Kami tak perlu jembatan, kami bisa melewati jalan lain,” kata si kakek.

“Tapi di jalan lain itu ada beruang lapar. Kalian butuh jembatan. Oh, ayolah, bantu aku membangun kembali jembatan.”

“Beruang lapar katamu?” sahut si kakek. “Beruang lapar itu tak ada. Itu hanya akal-akalanmu agar kami melintasi jembatan yang kau jaga dan membayar dua keping perak padamu. Tidak, kami tak mau kau tipu lagi. Kau bangun sendiri jembatan itu!” kata si kakek lalu pergi.

Sharon sedih dan malu. Tak ada penduduk kampung yang mau menyapa atau berteman dengannya lagi. Sharon pergi dari kampungnya, melangkah tak tentu arah, hingga sampailah ia di sebuah hutan.

Sharon terkejut dan wajahnya pucat, ketika di depannya muncul seekor beruang. Beruang itu memandang tajam pada Sharon. Beruang itu tampak lapar dan siap menerkam.

Sharon lari sekencang mungkin dan berteriak meminta tolong.

“Tolong, tolong! Ada beruang! Ada beruang lapar! Tolooooonnggg..!”

Namun, tak ada satu pun penduduk yang mendengar teriakan Sharon. Ia pun akhirnya tewas menjadi santapan beruang lapar. (58)

Sumber: Suara Merdeka, 19 Maret 2019

Advertisements