Laptop Impian ilustrasi Farid S Madjid - Suara Merdeka
Laptop Impian ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka

Menyebalkan. Membuat cerpen dengan tulisan tangan di kertas folio bergaris, sangat melelahkan. Baru tiga baris sudah macet ide. Lila mendesah kesal. Lila meremas kertas folio menjadi bulatan lalu melemparkannya ke sudut kamar. Sebal, sebal, sebal!

Andai Lila punya laptop, tentu ringan. Ia cukup menghapus, bukan meremas-remas kertas dengan hati kesal.

Lila benar-benar ingin punya laptop, bekas pun boleh. Tapi ayah tidak punya uang, bahkan untuk membeli laptop bekas sekalipun. Miskin benar ayah, batin Lila kesal.

Bertahun-tahun ayah jadi penjaga di sebuah SD Negeri, honorer pula, mana mungkin bisa membelikan laptop untuk Lila?

Lila sampai lelah merengek pada ayah minta dibelikan laptop. Ya sudah, Lila akan beli laptop sendiri. Lila akan ikut lomba cipta cerpen. Hadiahnya Rp 6 juta. Dengan uang hadiah itu Lila akan beli laptop. Kalau menang, kalau kalah bagaimana?

Tapi malam ini begitu rumit bagi Lila. Macet ide! Lila tidak tahu, ini terjadi karena ia tidak berbakat atau karena kesal memikirkan laptop yang tak kunjung ia miliki?

Lila menghela napas. Memandang tempat sampah di sudut kamar yang penuh bulatan kertas. Dengan malas ia mengambil tempat sampah berbahan plastik dan berwarna kuning itu. Ia membawanya ke luar kamar.

Di ruang tengah, Lila melihat ayah sedang duduk membaca buku. Penjaga sekolah saja sok jadi kutu buku, batinnya. Lila melirik jam dinding, pukul 23.35.

“Belum tidur Lila?” tanya ayah menoleh sesaat.

“Besok kan Minggu, Ayah,” jawab Lila sambil berjalan menuju dapur. Ia akan memindahkan bulatan-bulatan kertas itu ke tempat sampah di dapur.

***

Lila berdiri di depan sebuah toko laptop. Memandang deret laptop yang terpajang di etalase. Ada yang hitam, merah, pink. Ah, Lila ingin punya yang pink, cantik sekali. Kapan? Tiga bulan lagi, kalau ia menang lomba cipta cerpen?

Lila mendesah. Gadis kelas VI SD itu berlalu dari toko laptop dekat sekolahnya itu. Mencegat angkot.

Di dalam angkot, Lila duduk di dekat seorang gadis dari sekolah lain. Gadis itu sedang memangku laptop yang terbuka. Gadis itu senyum-senyum memandang laptopnya. Lila melirik sekilas. Gadis itu sedang membuka Facebook. Menyenangkan sekali bisa buka Facebook di laptop, layarnya lebih besar. Tidak seperti di ponsel, layarnya kecil bikin pusing.

Turun dari angkot, Lila menyusuri gang dengan langkah malas dan tertunduk. Kepala terasa berat. Impian memiliki laptop benar-benar membebani pikiran Lila. Sampai rumah, Lila melempar tas punggung ke kasur.

Hei, apa itu sesuatu berwarna hitam di meja belajar? Mata Lila membelalak. Laptop!

“Buat kamu,” tiba-tiba ayah muncul dari balik pintu.

“Buat Lila?” mata Lila masih membelalak.

Ayah mengangguk dan tersenyum.

“Buat kamu. Hadiah dari Pak Burhan, kepala sekolah.”

“Bagaimana ceritanya, Yah?”

Ayah duduk di tepi kasur.

“Pak Burhan pernah bernazar, kalau beliau naik haji akan memberi hadiah kepada ayah, sebagai rasa syukur. Kamu tahu kan, sekarang ini orang bertanya-tanya kapan giliran naik haji. Antrenya bertahun-tahun. Alhamdulillah, tahun ini Pak Burhan akan naik haji. Beliau tanya, ayah minta hadiah apa? Ayah ingat kamu, lalu ayah minta laptop, bekas pun boleh. Kebetulan Pak Burhan punya dua laptop. Beliau memberikan satu untuk ayah. Bukan, bukan untuk ayah, tapi untuk kamu.”

Lila tertegun. Memandang Ayah dengan mata berbinar. Tapi sedetik kemudian mata Lila berkaca-kaca. Lila berlutut, memeluk kaki Ayah. Ayah kaget.

“Ada apa ini?” tanya Ayah.

Lila sesenggukan.

“Maafkan Lila, Ayah.”

“Maafkan apa? Kamu salah apa?”

“Lila sudah berburuk sangka pada Aayah. Selama ini Lila benci Ayah karena nggak membelikan laptop.”

Ayah menarik bahu Lila dan memintanya berdiri.

“Ayah juga minta maaf, Nak. Ayah sudah berusaha menabung agar bisa membelikanmu laptop, tapi tabungan ayah belum cukup,”  kata Ayah dengan mata berkaca-kaca.

“Lila sudah berdosa pada Ayah,” Lila hendak memeluk kaki Ayah lagi, tapi Ayah mencegah.

“Sudah, sudah,” Ayah menyeka pipi Lila yang basah.

Lila tersenyum bahagia.

“Terima kasih, Ayah,” Lila memeluk Ayah erat-erat. Lila memejamkan mata. Sekarang Lila percaya bahwa Tuhan akan memberikan pahala bagi hamba-Nya yang jujur dan ikhlas. Lila bangga pada ayah.(58)

 

 

Sumber: Suara Merdeka, 05 Maret 2017

Advertisements