buah-beracun-ilustrasi-farid-suara-merdeka
Buah Beracun ilustrasi Farid/Suara Merdeka

Kerajaan Barburaa pagi itu gempar. Putri Cleona hilang. Ratu Upatra pingsan. Baginda Raja Abrar menyuruh para prajurit mencari sang putri. Kerajaan Barburaa memang tengah mempunyai masalah dengan kerajaan tetangga. Karena utang Kerajaan Barburaa yang sangat besar, situasi di luar istana tidak aman. Apalagi setelah kerajaan tetangga mengancam akan menculik Putri Cleona.

Namun, sebetulnya pagi-pagi sekali Putri Cleona keluar dari istana dan menuju Hutan Lumbra. Menurut kabar, Hutan Lumbra adalah hutan larangan. Banyak pohon dan buah beracun yang mematikan di dalam sana. Namun Putri Cleona tidak percaya dan terus masuk ke dalam hutan.

“Akhirnya aku bisa berjalan-jalan tanpa pengawal,” ujar Putri Cleona riang.

Putri Cleona kecil yang pemberani terus masuk ke Hutan Lumbra. Tanpa sadar dedaunan hutan yang rimbun menutup cahaya matahari yang masuk. Gelap, kanan kiri dan sekitarnya menjadi sangat gelap. Putri Cleona kebingungan, terseok-seok ia mencoba kembali namun lupa jalan mana yang telah dilewatinya.

“Ibunda…ayahanda.. tolong putri,” serunya.

Namun tak ada sahutan kecuali suara burung-burung seram yang menakutkan.

Putri Cleona mempercepat larinya, tak sadar gaunnya yang lebar membuat kakinya tersandung. Putri Cleona terperosok jatuh, berulang-ulang ia terguling sampai tak sadar berada di tepian sungai yang jernih.

Cahaya matahari menyilaukan mata. Putri Cleona tiba-tiba merasakan perutnya melilit. Putri melihat ke sekelilingnya. Pandangannya tertuju pada pohon yang berbuah merah ranum. Bentuknya seperti buah apel. Putri Cleona hendak memakan buahnya sebelum akhirnya ia dikejutkan oleh sesuatu.

“Hei siapa kau?” pekik seorang anak perempuan seusianya yang memandangnya sinis.

“Aku Putri Cleona dari Kerajan Barburaa,” jawab Putri.

Anak itu memandang tidak percaya.

“Itu buah racun, tak boleh kau memakannya. Nanti kau bisa mati. Buang!” bentak anak perempuan itu.

Putri Cleona tidak percaya, ia justru mengambil beberapa buah lagi lalu berlari sekuat tenaga. Anak perempuan itu gesit mengejarnya, dan lagi-lagi kaki Putri Cleona tersandung gaunnya yang panjang lalu terperosok. Ia kemudian tak sadarkan diri.

***

Saat Putri terbangun, ia berada di sebuah rumah kecil berdinding anyaman bambu dan beratap rumbia. Kepalanya pening, kakinya sulit digerakkan. Tiba-tiba anak perempuan yang tadi mengejarnya berada tepat di depannya.

“Tidak usah takut, aku tadi yang menolongmu. Namaku Amora,” ujarnya.

“Terima kasih Amora,” ucap Putri Cleona.

“Ini makanlah supaya kau lekas sembuh,” kata Amora sambil menyerahkan sekeranjang buah racun.

“Tidak mau, kau bilang ini buah racun,” kata Putri Cleona.

Amora menunduk, mengusap air matanya lalu mulai bercerita.

“Nenek moyangku dulu tinggal di sini. Mereka sengaja menyebarkan berita tidak benar mengenai buah beracun yang banyak tumbuh di hutan ini. Kabar mengerikan lainnya, supaya mereka tidak menyentuh dan mengganggu kami.”

Putri Cleona terkejut mendengar itu.

“Tapi akhirnya semua keluargaku terkena karma Putri, mereka terserang penyakit aneh. Semuanya mati, kecuali aku,” ucap Amora sedih.

“Ayah berwasiat padaku supaya aku kembali ke Kerajaan Barburaa dan menjelaskan tentang buah racun ini. Buah ini sebenarnya buah langka yang sangat mahal harganya,” lanjut Amora.

Awalnya Putri Cleona tidak percaya, namun melihat ketulusan dari Amora, Putri akhirnya tidak meragukannya. Putri Cleona pun merangkul Amora dan menghapus air matanya. Putri Cleona lantas mencoba memakan buah beracun itu dan rasanya ternyata sangat manis, segar, dan membuat tubuh menjadi bugar. Putri Cleona pun mengajak Amora ke kerajaan. Ia berjanji membantu Amora supaya diterima di istana, karena Amora juga sudah membantunya. Amora hafal betul jalanan di sekitar hutan, karena ia biasa tinggal di sana. Hanya satu jam keduanya sudah sampai di istana.

Baginda Raja dan Ratu Upatra sangat bahagia melihat Putri Cleona kembali walaupun dalam keadaan kotor. Amora yang membawa sekeranjang buah beracun menunduk takut jika diusir dari istana. Putri Cleona lantas merangkulnya dan menjelaskan apa yang terjadi.

“Coba saja ayahanda, buah ini rasanya sangat manis.”

Dengan ragu-ragu Baginda Raja dan Ratu Upatra menggigit buah beracun itu dan ternyata rasanya sangat lezat. Amora berjanji menunjukkan di mana tempat buah tersebut tumbuh, supaya Baginda Raja menjualnya untuk menutup utang dengan kerajaan tetangga.

“Amora, sebagai ucapan terima kasih kuizinkan kamu tinggal disini,” ucap Baginda Raja.

Putri Cleona sangat bahagia karena kini ia memiliki teman. Dalam hati ia berjanji untuk tidak lagi menyelinap keluar istana. Putri Cleona dan Amora pun menjadi sahabat sejati selama-lamanya. (75)

Sumber: Suara Merdeka, 29 Januari 2017

Advertisements